WISUDA Di Universitas Pelita Harapan Karawaci Tangerang Indonesia 2009




UPH Karawaci Tangerang Indonesia 2009


Universitas Pelita Harapan Karawaci Indonesia 2009



Universitas Pelita Harapan Karawaci Tangerang Indonesia 2009

Kota Bunga Puncak Bogor 2010

Kolam Renang Kota Bunga Puncak Bogor 2010

Puncak Bogor

PUNCAK BOGOR

Bagaimanakah pendapat anda tentang Blog http://www.keperawatansopianhadi.blogspot.com

Kota Bunga Puncak (BOGOR)

Kota Bunga Puncak (BOGOR)
Kota Bunga Puncak (BOGOR)

Bersama istriku tercinta 2010

8 mei 2010 Wisuda di Universitas PELITA HARAPAN KARAWACI INDONESIA

15-05-2005 Bogor Jawa barat at Wedding

Istriku tercinta, PURWANTI

Teman2 AE Siloam Hospitals di Pulau Ayer, Ancol jkt

Menurut anda, berapa kali anda melakukan hubungan seks dalam 1 bulan?

Rabu, 04 Januari 2012

PEMBERIAN OBAT DOBUTAMINE


          UNIT CATH LAB SHKJ
          DOBUTAMIN/ DOBUJECT 250/50 CC
          NAMA                    :
          TGL/ JAM             :
          Pengenceran : 250/ 50 = 5000 mcg
          Dosis                         : 1 s/d 15 mcg
          Dosis x BB x mnt  = 1x40x60  = 0,48 cc/ jam
          Pengenceran              5000

Ds/BB
40
45
50
55
60
65
70
75
80
1 mcg
0,48
0,54
0,6
0,66
0,7
0.8
0.8
0.9
0.9
2
0.96
1.1
1.2
1.3
1.4
1.6
1.7
1.8
1.9
3
1.4
1.6
1.8
1.98
2.2
2.3
2.5
2.7
2.9
4
1.9
2.2
2.5
2.6
2.9
3.1
3.4
3.6
3.8
5
2.4
2.7
3.1
3.3
3.6
3.9
4.2
4.5
4.8
6
2.9
3.2
3.7
3.96
4.3
5.7
5.0
5.4
5.8
7
3.4
3.8
4.3
4.6
5.1
5.5
5.9
6.3
6.7
8
3.8
4.3
4.9
5.3
5.6
6.2
6.7
7.2
7.7
9
4.3
4.8
5.5
5.9
6.5
7.0
7.6
8.1
8.6
….





















                     

Sabtu, 17 Desember 2011


     PROSEDUR DIANOSTIK INVASIF 

   Kateterisasi jantung meupakan pemeriksaan diagnostik invasif 
   untuk melihat suatu pembuluh darah jantung  dengan 
   memasukkan suatu kateter ke dalam pembuluh darah.  
   Tindakan ini bisa dengan penyadapan maupun coronarografi. 
   Adapun tindakan intervensi non bedah adalah pengobatan 
   terhadap kelainan pembuluh darah jantung  tanpa melakukan
   pembedahan.

   Di bawah ini beberapa tindakan yang dapat dilakukan di 
   ruang Diagnostik Invasif & Intervensi Non Bedah (DI & INB):
  a.       Penyadapan jantung
  b.      Angioplasty (stenosis koroner, valvuler dan perifer)
  c.       Embolisasi (PDA, ASD, VSD, AV fistel
  d.      Temporary pacemaker, permanent pacemaker
  e.      ESWL atau elektrofisiologi study serta ablasi

   Sistem kerja di ruang DI & INB adalah sebuah tim yang terdiri 
   dari :
   a.       Operator adalah dokter spesialis jantung yang telah terlatih 
         dan mendapatkan rekomendasi dari komite medik sesuai 
         dengan syarat dan ketentuan yang berlaku.
   b.       Perawat Scrub adalah  seorang perawat yang bertugas 
          sebagai asisten operatorselama tindakan.
   c.        Perawat sirkulasi adalah  seorang perawat yang membantu 
          segala kebutuhan yang diperlukan selama tindakan.
   d.        Perawat monitor adalah perawat yang memonitor secara 
          intensif tentang hemodinamik pasien dan yang mendo
          kumentasikan seluruh proses tindakan.
   e.         Radiografer khusus ruang kateterisasi untuk x-ray
         
   Alur pasien di unit DI & INB adalah :
   a.       Pasien yang berasal dari ruangan perawatan
   b.       Pasien yang di rujuk dari rumah sakit lain
   c.        Pasien ambulatory ( datang dari rumah)


       Prosedur Koroner Angiografi
       Definisi
       Koroner angiografi adalah suatu pemeriksaan diagnostik invasif 
       untuk melihat penyempitan/ penyumbatan pembuluh darah arteri 
       koroner dengan menggunakan sinar x-ray dan kontras. 
      Tindakan ini dapat dilakukan  melalui arteri femoralis, radialis 
      dan brachialis.
       Tujuan
       -     Menegakkan diagnosa
       -     Menilai fungsi ventrikel kiri
       -     Mengetahui kondisi dari penyempitan (panjang & diameter) 
           pembuluh darah arteri yang terganggu
       -      Mengetahui kelainan pembuluh darah arteri koroner
       -      Mengetahui letak penyempitan

        Indikasi
       -       Angina pektoris stabil dan tidak stabil
       -       CAD
       -       Myocard infark yang tidak respon dengan obat-obatan
       -       CHF
       -       Test treadmill positif
       -       Evaluasi bypass koroner
       -       Asimtomatik koroner

       Kontra indikasi
     Kontra indikasi pada tindakan ini pada dasarnya tidak ada yang 
     absolute untuk dilakukan tindakan, hanya beberapa yang perlu di 
     pertimbangkan untung ruginya, diantaranya :
     -          Hamil kurang dari 3 bulan
     -          Pasien tidak kooperatif
     -          Gastrointestinal bleeding
     -          Alergi terhadap zat kontras
     -          Gagal jantung yang tidak terkontrol
     -          Infeksi berdasarkan hasil laboratorium
     -          Stroke hemoragik
     -          Gangguan elektrolit
     -          Keracunan obat digitalis

     Komplikasi
     Komplikasi yang terjadi terbagi dalam komplikasi mayor & minor
     a.       Komplikasi minor
           Perdarahan, sakit dan hematom area penusukan atau bisa 
           juga gannguan irama jantung VES(Ventrikel ekstra systole)
     b.      Komplikasi mayor
           -          Trombo emboli
           -          Infark myocard
           -          Alergi zat kontras
           -          Tamponade jantung
           -          Aritmia (VT, VF)
           -          Hipotensi berat
           -          Infeksi
           -          Henti jantung
           -          Kematian
SOPIAN HADI NYELANDING BANGKA JAKARTA INDONESIA

Jumat, 16 Desember 2011




TINJAUAN TEORITIS PASIEN PASCA PCI DENGAN NSTEMI

Pengertian
Percutaneous coronary intervention (PCI)  merupakan upaya 
melebarkan saluran pembuluh darah dengan memasukkan pipa 
kateter yang dilengkapi balon atau stent (kawat penyangga). 
Setelah balon dikembangkan, penyempitan akan hilang. 
Jika stenosis maka dilakukan penanganan dengan tindakan 
stent yang akan di-implant-kan (ditinggalkan dalam tubuh) 
untuk mendukung arteri dari dalam agar tetap mengembang.
Stent merupakan selang berkawat yang sering diletakkan 
pada pengobatan PCI.  Pemasangan stent merupakan suatu 
pertimbangan lanjut dari PCI dengan menanamkan suatu alat 
didaerah stenosis pada pembuluh darah koroner untuk 
mempertahankan pembukaan koroner secara mekanis .
Stent digunakan pada penutupan arteri yang tiba-tiba setelah 
PCI atau restenosis pada post PCI. Stent merupakan dukungan 
mekanis yang mencegah kelenturan elastis arteri dan stenosis ulang 
untuk mengatasi diseksi koroner.

Penyakit tersering yang dilakukan tindakan PCI adalah Acute 
Coronary Syndroma (ACS), ACS adalah sekumpulan gejala yang 
dimanisfestasikan dengan nyeri dada, sesak nafas yang disebabkan 
oleh pembentukan plak di arteri koroneratau spasme koroner 
(PKJPDNHK,2001)
ACS di bagi dalam 3 kategori : Unstable angina pectoris (UAP), 
Non ST Elevasi Myocard Infark (NSTEMI) dan ST elevasi 
Myocard infark (STEMI).
   Unstable angina pectoris (UAP) adalah nyeri dada yang timbul 
saat istirahat dan beraktifitas, nyeri lebih hebat dan frekuensi lebih sering, 
lama nyeri lebih dari 30 menit, dapat disertai mual, sesak nafas,
muntah. ECG terdapat ST depresi saat serangan dan setelah serangan 
muncul sebagian, biasanya nyeri dada hilang setelah pasien mendapat 
terapi nitroglyserin,narkotik atau oksigen.
   Non ST Elevasi Myocard Infark (NSTEMI) adalah timbulnya 
gejala seperti nyeri dada khas (rasa seperti di remas-remas, 
ditusuk-tusuk, ditindih benda berat dan menjalar ke punggung, 
leher serta tangan kiri) yangberlangsung lebih dari 15 menit, 
tidak di sertai perubahan gambar EKG berupa elevasi segmen ST, 
tidak hilang dengan nitrat serta ada peningkatan enzim jantung.
   ST elevasi Myocard infark (STEMI) adalah timbulnya gejala 
seperti nyeri dada khas (rasa seperti di remas-remas, ditusuk-tusuk, 
ditindih benda berat dan menjalar ke punggung, leher serta tangan kiri) 
yang berlangsung lebih dari 15 menit, di sertai perubahan gambar EKG 
berupa elevasi segmen ST > 1 mm pada 2 sandapan tungkai yang 
berdekatan atau elevasi segmen ST > 2 mm pada dua sandapan dada.


Selasa, 13 Desember 2011

                                                  EPIDURAL STEROID INJECTION

Adalah menyuntikan sejumlah obat steroid (sering dikombinasi dengan obat lain) dekat dengan spinal cord pada epidural space. Tindakan ini bisa dilakukan pada leher (cervical epidural ), diatas (thoracic epidural), atau lower back (lumbar epidural). Jika epidural space sangat dekat dengan sacral hiatus (dekat tulang ekor) prosedur ini disebut caudal epidural steroid injection.

Indikasi
Nyeri leher dan nyeri tulang belakang yang disebabkan oleh degenarasi dari persambungan dan penyakit disc vertebra. Sangat membantu untuk menghilangkan nyeri pada ektremitas yang sering disebabkan oleh prolaps dari disc vertebra atau penyempitan dari struktur tulang tempat dimana saraf keluar dari vertebra colum (neuroforaminal stenosis).
Mekanik dan kimia iritasi dari saraf akan menjadi inflamasi dan swelling. Ini akan menjadi nyeri pada leher / belakang yang dapt juga menjalar turun ke lengan dan kaki.
Steoid adalah obat yang sangat kuat untuk melawan inflamasi. Tujuan dari ESI adalah menyimpan obat long-acting steroid sedekat mungkin dengan tempat terjadinya inflamasi / iritasi.
Untuk mendapatkan konsentrasi yang sama dari steroid pada tempat nyeri, akan membutuhkan sangat banyak dosis dari steroid dalam bentuk tablet dimana sudah diketahui efek samping dari steoid dan komplikasinya.

Kontra indikasi
ESI tidak boleh diberikan pada pasien dengan infeksi aktif karena beresiko membawa sumber infeksi dekat dengan spinal. Jika pasien mengalami demam, batuk baru, atau gejala lain dari infeksi, beritahu dokter anda untuk menjadwal ulang tindakan ESI. Hati - hati juga pada kelainan pembekuan darah karena Hemophili dan penyakit kelainan pembekuan darah menurun atau karena obat seperti warfarin, ticlid, plavix akan meningkatkan resiko pengumpalan darah pada rongga epidural (hematom) yang akan memungkinkan terjadinya kerusakan saraf permanen.
Bila minum obat-obatan herbal / suplement dosis tinggi ( jahe, ginko-giloban, ginseng dan vit E ) akan meningkatkan resiko perdarahan.
Alergi media kontras.

Prosedur
Persiapan
• Puasa makan dan minum 4-6 jam.
• Jika ada riwayat DM, jangan minum obat DM bila perut kosong atau obat insulin jangan diberikan (jika
   DM tipe tergantung insulin)
• Obat lain tetap diminum sesuai dosis dan waktu.
   Posisi pasien 
• Cervical epidural posisi duduk, miring atau telungkup.
   Fluroskopi
• Dilakukan dibawah fluroskopi (live x-ray) untuk meyakinkan obat diberikan pada posisi yang benar.

Setelah jarum pada posisinya, kontras akan disuntikan dengan panduan fluroskopi untuk meyakinkan dan evaluasi perjalanan kontras. Jika posisi benar obat akan disuntikan saat itu juga. Obat bisa hanya steroid dicampur saline bisa juga steroid dicampur obat lain sesuai indikasi.

Pemulihan
• Pasien cukup dari rawat jalan.
• Setelah ESI pasien diobservasi 15-30 menit untuk meyakinkan tidak ada efek samping dari prosedur.
• Jika tidak ada masalah, pasien bisa pulang namun jangan melakukan aktivitas berat selama hairi itu dan
   besoknya sepeti biasa.

Komplikasi
- Perdarahan dan infeksi
- Alergi kontras
- Kerusakan saraf, jika jarum melewati dura dan masuk ke rongga spinal akan terjadi spinal headache. Jika  
   terjadi istirahat beberapa hari, minum cukup cairan dan kafein. Jika tidak berkurang harus dilakukan  
   epidural blood patch.
- Efek steroid, seperti kenaikan gula darah, perubahan mood dan jerawat.
- Secara umum ESI tindakan yang aman

Lamanya nyeri berkurang
Nyeri akan hilang selama 2-3 bulan, bisa berfariasi dari tidak berkurang sampai hampir hilang sama sekali dengan durasi dari beberapa hari sampai beberapa bulan. Beberapa pasien mungkin tidak mengalami pengurangan nyeri pada suntikan pertamanya tapi setelah sekali atau 2 kali lagi tindakan dalam beberapa hari dan mingu. Dokter akan melakukan suntikan ini secara serial dimana mereka akan melakukan 1 atau 2 atau 3 suntikan epidural dalam beberapa hari atau minggu. Interval antara serial harus pada beberapa tempat diantara 2-3 bulan. Terlalu banyak steroid akan meningkatkan efek samping.

Jumat, 05 November 2010

PASIEN DAN PERSEPSI KARDIOLOGIS DARI KEUNTUNGAN PERCUTANEOUS CORONARY INTERVENTION PCI) UNTUK PENYAKIT JANTUNG

Latar belakang : Tidak jelas apakah pasien mengerti PCI hanya mengurangi angina
pectoris stabil dan tidak MCI atau terkait kematian.
Objektif : Untuk membandingkan kardiologis dan kepercayaan pasien tentang PCI
Desain : Survey
Setting : Academik center
Partisipan : 153 pasien yang setuju untuk kateterisasi jantung terencana dan
mungkin PCI, 10 Kardiologis intervensi serta 17 kardiologis
rujukan.
Measurements : Pasien dan kcardiologi percaya tentang keuntungan dari PCI. Semua
kardiologis melaporkan keuntungan PCI bagi pasien di skenario
hipotetis. Kardiologi intervensi juga melaporkan keyakinan study
pasien untuk menjalani PCI.
Results : Dari 153 pasien, 68 % mengalami Angina, 42 % mengalami pembatasan aktivitas, 77 % hasil test stress positif, 29 % telah mengalami MCI sebelumnya, 53 pasien yang menjalani PCI lebih mungkin dibandingkan mereka yang tidak memiliki hasil test stress positif, tapi angina sama di kedua grup. Hampir ¾ pasien berpikir bahwa tanpa PCI, mereka mungkin akan mengalami MCI dalam waktu 5 tahun kedepan, dan 88 % pasien percaya bahwa PCI akan mengurangi resiko MCI. Pasien sedikit lebih mudah percaya di bandingkan dokter bahwa PCI akan mencegah MCI (rasio prevalensi, 4,25 [95% CI, 2,31-7,79]) atau fatal MCI (rasio prevalensi, 4,83 [CI, 2,23-10,46]). Pasien kurang percaya dibandingkan dokter untuk laporan pra-PCI angina (prevalensi
rasio, 0,79 [CI, 0,67-0,92]). Untuk skenario, 63% dari
kardiologi percaya bahwa manfaat dari PCI terbatas pada hilangnmya gejala. Kardiologis yang mengidentifikasi tidak ada manfaat dari PCI di 2 scenario, 43% mengindikasikan bahwa mereka masih akan melanjutkan PCI di
kasus-kasus ini.
Keterbatasan: Penelitian ini kecil dan dilakukan di 1 pusat, dan informasi tentang konseling precatheterization terbatas.
Kesimpulan: keyakinan kardiologis tentang PCI mencerminkan hasil uji coba, tapi
keyakinan pasien tidak. Diskusi dengan pasien sebelum PCI harus
lebih baik menjelaskan manfaat yang diharapkan.
.

Selasa, 02 November 2010



Penggunaan SBAR (Situation, Background, Analisa, Recomendation)di Siloam Hospitals
by : Sopian hadi

S : Ny A, 35 thn, post angiography hari I, pasien Dr. S, 
      mengeluh…..(jika ada)
B : Dx Medis CAD, Stenting LAD,LCX, terpasang 
      infus RL 6 tts/mnt di lengan
      kiri, urine catheter, electrode di 4 ekstremitas, 
      terlampir ECG,MSCT, Ro/ Thorax
      (dari ruangan), CD, laporan dokter (cath lab)
A : Bp 110/70 mmhg, HR 80 x/m, T 36 C, RR 20 x/m, 
      Skala nyeri 2, kes: CM, pivas,
      analisa masalah keperawatan……contoh : 
      hematoma
R : Intervensi dilanjutkan, contoh : 
      kompres hangat, minum 1-2 liter/ hari, pamol 
     3 kali 1/ day

Sabtu, 30 Januari 2010

KARYA - KARYAKU (Untuk melihatnya klik "posting lama" :
MY LIFE
Siloam at Home di Siloam Hospital Kebon Jeruk Jakarta
Manajemen Pasien Trauma Prehospitals
Nursing Research
FINAL EXAMINATION MATERI
RISET KEPERAWATAN
NURSING LEADERSHIP AND MANAGEMENT PROPOSAL PROYEK “ MEWAWANCARAI TOKOH DALAM BIDANG KEPERAWATAN “
STUDY KASUS PADA Tn. A DENGAN MYOCARDIAL INFARCTION & HIPERTENSI
Kritikan terhadap riset kesehatan
ANALISA KLINIS DI RUMAH SAKIT

Senin, 04 Januari 2010

MASA KECIL (1-6 tahun)

Sopian hadi Nyelanding Bangka, terlahir di tengah hutan rimba di pedalaman Bangka Selatan, tepatnya di hutan kedagul, hutan dagul masuk area Desa Batu betumpang, Desa Nyelanding dan Sekarang masuk area  Trasnsmigrasi 4. Sewaktu kecil selalu bermain didalam hutan, naik pohon bak tarzan, main di sungai, menangkap ikan dengan menyelam ke dasar sungai, menangkap burung dengan membuat jebakan dan menggunakan pulut (lem perekat bulu), menangkap udang dengan umpan pada alat perangkap, berburu babi hutan, kadang kala jika lapar dapat memakan daun kayu muda serta memakan daging burung hidup serta daging ikan maupun udang hidup serta selalu memakan apa saja yang boleh dimakan : buah-buahan yang ada di hutan, tidak ada sedikitpun rasa takut bermain didalam hutan, apalagi menghadapi binatang, justru binatang sangat dekat dengan manusia karena saat itu tidak ada perburuan terhadap binatang. Saya mempunyai prilaku kecil sangat nakal, mulai dari BAB di Hulu pemandian sehingga orang yang mandi di hilir sungai akan mandi dengan kotoran, main dengan beberapa ekor anjing, mengikuti jalan setapak dengan anak-anak sebaya sampai jauh meninggalkan rumah. Tetapi saat itu tidak ada larangan orang tua untuk tidak bepergian. Hidup seperti ini saya jalani selama 4 tahun pertama, saat usia saya sekitar 4 -6 tahun saya mengikuti orang tua pindah ke desa Nyelanding. Orang tuaku pindah karena di hutan tidak ada sekolah, di Nyelanding ada satu-satunya SD ( sekolah dasar).

Senin, 28 Desember 2009

MY LIFE

Saya merupakan anak ke 3 dari6 bersaudara, pasangan Taksiah (52 thn)dan Bujing (58 thn), kedua orang tuaku tinggal di desa nyelanding bangka, mereka hidup tenang sebagai seorang petani lada, kedua orang tuaku tidak pernah sekolah, walaupun mereka tidak pernah bersekolah, tapi aku bangga memiliki orang tua yang hidup damai dan tenteram serta berkecukupan secara materi.kakakku dan adikku meninggal dunia saat masih bayi, kakakku yang ke - 1 bernama Julita 28 tahun, seorang ibu rumah tangga dan mempunyai seorang anak laki-laki yang di beri nama Sastra Heryawan (9 thn), mereka tinggal didesa nyelanding bangka, kakakku tidak bersekolah ( tidak lulus SD), adikku Amilladi, 24 tahun, tahun 2009 ia menikah dengan seorang wanita pujaan hatinya didesa nyelanding yaitu Tiwi, saat itu Tiwi masih berumur 17 tahun, walaupun adikku hanya lulus SD tapi dia merupakan keluargaku yang paling sukses, dengan memelihara ayam, menjual pulsa, membuka counter telpon, membuka tenpat permainan anak serta bertani Lada, dia dapat membiayai hidupnya, serta dapat membangun rumah dan membeli mobil. Adikku yang bungsu bernama Haryono, 19 tahun, sejak lulus SMA, dia sempat kursus mekanik HP di Roy Jakarta tapi hanya bertahan 1 minggu karena dia tidak betah. Sekarang dia bertani membantu orang tuaku di kampung.

Sabtu, 21 November 2009

Siloam at Home di Siloam Hospital Kebon Jeruk Jakarta

Hari ini tgl 17 November 2009 mulai di bentuk Siloam @ home, jumlah anggotanya 22 orang ( salah satunya : Sopian Hadi ) yang di koordinasikan oleh Sr. Sumiasih. Siloam @ Home ini di bawah pengawasan Kepala Bidang Keperawatan, Tujuan dari Siloam @ Home adalah untuk lebih meningkatkan pelayanan kepada pelanggan/ pasien pasca rawat di Siloam Hospital Kebon Jeruk. Bentuk layanan yang dapat dilakukan adalah : Memandikan bayi, merawat tali pusat, penggantian NGT, pemasangan Dower catheter, Pemasangan infus dan pemberian obat suntik, perawatan luka, perawatan stoma dan banyak lagi tindakan lainnya.

Manajemen Pasien Trauma Prehospitals


Jika anda petugas kesehatan dengan menggunakan Ambulance, menemukan pasien trauma, langkah-langkah penanganan prehospitalsnya adalah sbb:1. Use body substance isolation2. Scene size up : - Safe : amankan diri kita, personal, lalu pasien- Mekanisme injury- Number of patient- Minta bantuan jika perlu- Stabilisasi Spine3. Initial Assessment- Gambarkan pasien secara umum- Cek kesadaran pasien dengan menggunakan AVPU (alert, verbal, pain, unrespone)- Chief complaint atau life threat- Airway, Breathing (asses, beri oxygen 15 lpm dengan NRM, ventilasi, injury management)- Circulation (Asses bleeding, Pulse, skin)4. Pertimbangkan untuk transport5. Focused physical examination/ Rapid Trauma Assesment- Fokuskan area mana yang menjadi masalah utama- Cek tanda-tanda vital- S : sign n symtomp- A : adanya alergi- M : Medication, obat yang telah diminum- P : past pertinent history (riwayat penyakit yang lalu)- L : last oral intake (makan terakhir dan jenisnya)- E : Event leading atau rule of ilness6. Detailed physical examination (head, neck, chest, abdominalis/pelvis, extremitas, posterior)7. Assess injury sekunder8. Repeats initial assesment.

Siloam at Home di Siloam Hospital Kebon Jeruk Jakarta

Pada hari ini tgl 17 November 2009 mulai di bentuk Siloam @ home, jumlah anggotanya 22 orang ( salah satunya : Sopian Hadi ) yang di koordinasikan oleh Sr. Sumiasih. Siloam @ Home ini di bawah pengawasan Kepala Bidang Keperawatan, Tujuan dari Siloam @ Home adalah untuk lebih meningkatkan pelayanan kepada pelanggan/ pasien pasca rawat di Siloam Hospital Kebon Jeruk. Bentuk layanan yang dapat dilakukan adalah : Memandikan bayi, merawat tali pusat, penggantian NGT, pemasangan Dower catheter, Pemasangan infus dan pemberian obat suntik, perawatan luka, perawatan stoma dan banyak lagi tindakan lainnya.

Sabtu, 21 Februari 2009

Nursing Research

Abstract

Patient experience during 6 hours waiting time after PCI procedure at CCU in SHLK
Background:
In 2005 cardiovascular disease had cause 17,5 million death or its about 30% from world mortality, and about 7,5 from it caused by heart attack. WHO (2006) estimated that in 2015 will be 20 million people die because of cardiovascular disease. Indonesia health department (2006) reported about 26,3% from all hospitalized patient died caused by cardiovascular disease or about 16,7% from all population.
Objectives :
To explore patient experience during 6 hours waiting time an straight legs after PCI procedure at CCU.
Problem statement
After PCI procedure patient have to lying down with straight legs on the bed for 6 hours to prevent complication. It is a long time for patient to spent without doing nothing.
Methods
This study is qualitatively and using phenomenology descriptive methodology. The data will be collected by in depth interview. The research will be analyze using Giorgi’s methods (1985). Data will be analyze from the researcher view
Result
Four themes emerged that describe the participant experiences of 6 hours waiting time lying down with straight still legs: asking nurse attention, anxiety, boredom and discomfort
Keywords
Patient experience, PCI and 6 hours waiting time.

Nursing Research

Abstract

Patient experience during 6 hours waiting time after PCI procedure at CCU in SHLK
Background:
In 2005 cardiovascular disease had cause 17,5 million death or its about 30% from world mortality, and about 7,5 from it caused by heart attack. WHO (2006) estimated that in 2015 will be 20 million people die because of cardiovascular disease. Indonesia health department (2006) reported about 26,3% from all hospitalized patient died caused by cardiovascular disease or about 16,7% from all population.
Objectives :
To explore patient experience during 6 hours waiting time an straight legs after PCI procedure at CCU.
Problem statement
After PCI procedure patient have to lying down with straight legs on the bed for 6 hours to prevent complication. It is a long time for patient to spent without doing nothing.
Methods
This study is qualitatively and using phenomenology descriptive methodology. The data will be collected by in depth interview. The research will be analyze using Giorgi’s methods (1985). Data will be analyze from the researcher view
Result
Four themes emerged that describe the participant experiences of 6 hours waiting time lying down with straight still legs: asking nurse attention, anxiety, boredom and discomfort
Keywords
Patient experience, PCI and 6 hours waiting time.

Sabtu, 13 Desember 2008

FINAL EXAMINATION MATERI

1.Diskusikan validitas dan reliabilitas dalam riset kuantitatif dan kualitatif. Apa saja persamaan dan perbedaan diantara keduanya?
Penelitian merupakan kegiatan yang bertujuan untuk mencari kebenaran. Untuk mendapatkan kebenaran tersebut diperlukan serangkaian langkah yang dapat menuntun peneliti untuk menghasilkan sesuatu yang tidak menyimpang dari keadaan yang sebenarnya dari sasaran penelitian. Serangkaian langkah tersebut antara lain meliputi langkah-langkah untuk mendapatkan validitas dan reliabilitas, baik untuk riset kualitatif maupun riset kuantitatif. Riset kuantitatif merupakan riset yang bersifat formal, objektif, proses sistematik dengan menggunakan data numerik untuk mendapatkan informasi. Pendekatan yang digunakan deduktif, logic dan ciri pengalaman manusia yang dapat di ukur. Sedangkan riset kualitatif melibatkan pengumpulan dan analisis data dalam bentuk naratif bersifat subjektif menggunakan prosedur dengan pengendalian yang ketat. Pendekatan yang digunakan cenderung ke aspek pengalaman manusia yang dinamik dengan pendekatan yang holistik.
Validitas adalah pengukuran dan pengamatan yang berarti prinsip keandalan instrumen didalam mengumpulkan data. Instrumen harus dapat mengukur apa yang seharusnya diukur. Misalnya kita akan mengukur berat badan, maka akan digunakan timbangan untuk berat badan, tidak mungkin kita gunakan timbangan dacin. Validitas lebih menekan pada alat pengukur atau pengamat baru setelah itu memikirkan valliditas cara pengukuran. Didalam menilai keakuratan suatu instrument, ada lima tipe validitas yang digunakan : content validity, face validity, predictive validity, concurrent validity, construct validity. Content validity adalah suatu keputusan tentang bagaimana instrument dengan baik mewakili karakteristik yang dikaji, contoh, untuk menyusun suatu kuisioner tentang sikap individu terhadap makan tetapi lupa menyanyakan sesuatu tentang pentingnya makanan dalam kehidupan mereka, maka ini akan keliru. Face validity merupakan validitas yang paling rendah signifikansinya karena hanya didasarkan pada penilaian terhadap format penampilan tes, apabila tes telah meyakinkan dan memberikan kesan mampu mengungkap apa yang hendak diukur maka dapat dikatakan bahwa validitas muka telah terpenuhi. Predictive validity adalah seberapa besar derajat tes berhasil memprediksi kesuksesan seseorang pada situasi yang akan datang. Validitas prediktif ditentukan dengan mengungkap hubungan antara skor tes dengan hasil tes atau ukuran lain kesuksesan dalam satu situasi sasaran. Concurrent validity menunjukkan seberapa besar derajat skor tes berkorelasi dengan skor yang diperoleh dari tes lain yang sudah mantap, bila disajikan pada saat yang sama, atau dibandingkan dengan kriteria lain yang valid yang diperoleh pada saat yang sama. Construct validity adalah seberapa besar derajat tes mengukur konstruk hipotesis yang dikehendaki untuk diukur. Konstruk adalah perangai yang tidak dapat diamati, yang menjelaskan perilaku. Menguji validitas konstruk mencakup uji hipotesis yang dideduksi dari suatu teori yang mengajukan konstruk tersebut. Reliabilitas adalah kesamaan hasil pengukuran atau pengamatan bila fakta atau kenyataan hidup tadi diukur/ diamati berkali-kali dalam waktu yang berlainan. Reliabilitas dinyatakan dalam bentuk angka, biasanya sebagai koefisien. Koefisien tinggi berarti reliabilitas tinggi. Reliabilitas merupakan instrument untuk mengukur atribut penelitian, semakin tinggi tingkat reliabilitas sebuah instrument maka semakin rendah kemungkinan terjadi penyimpangan. Setiap alat pengukur seharusnya memiliki kemampuan untuk memberikan hasil pengukuran yang mantap atau konsisten. Pada alat pengukur fenomena fisik seperti berat dan panjang suatu benda, kemantapan atau konsistensi hasil pengukuran bukanlah sesuatu yang sulit diperoleh. Tetapi untuk pengukuran fenomena sosial, seperti sikap, pendapat, persepsi, kesadaran beragama, pengukuran yang mantap atau konsisten, agak sulit dicapai. Berhubung gejala sosial tidak semantap fenomena fisik, maka dalam pengukuran fenomena sosial selalu diperhitungkan unsur kesalahan pengukuran. Dalam penelitian sosial kesalahan pengukuran ini cukup besar. Karena itu untuk mengetahui hasil pengukuran yang sebenarnya, kesalahan pengukuran ini perlu diperhitungkan. Makin kecil kesalahan pengukuran, semakin reliabel alat pengukurnya. Semakin besar kesalahan pengukuran, semakin tidak reliabel alat pengukur tersebut. Teknik-teknik untuk menentukan reliabilitas ada tiga yaitu: teknik ulangan, teknik bentuk pararel dan teknik belah dua. Dalam tulisan ini akan dijelaskan satu teknik saja yaitu teknik belah dua. Teknik belah dua merupakan cara mengukur reliabilitas suatu alat ukur dengan membagi alat ukur menjadi dua kelompok.
Kedua pendekatan didalam riset kuantitatif dan kualitatif masing-masing mempunyai keunggulan dan kelemahan. Riset kuantitatif merupakan riset yang bersifat formal, objektif, proses sistematik dengan menggunakan data numerik untuk mendapatkan informasi. Pendekatan kuantitaif memunculkan kesulitan dalam mengontrol variable-variabel lain yang dapat berpengaruh terhadap proses penelitian baik secara langsung ataupun tidak langsung. Untuk menciptakan validitas yang tinggi juga diperlukan kecermatan dalam proses penentuan sample, pengambilan data dan penentuan alat analisanya. Sedangkan riset kualitatif melibatkan pengumpulan dan analisis data dalam bentuk naratif bersifat subjektif. Kelemahan validitas riset kualitatif adalah tidak bisa mendapatkan validitas yang tinggi karena validitas tidak bisa di ukur dengan angka, banyak memakan waktu, reliabilitasnya dipertanyakan, prosedurnya tidak baku, desainnya tidak terstruktur dan tidak dapat dipakai untuk penelitian yang berskala besar dan pada akhirnya hasil penelitian dapat terkontaminasi dengan subyektifitas peneliti. Demikian juga pada pengukuran fenomena sosial selalu diperhitungkan unsur kesalahan pengukuran karena dalam penelitian sosial kesalahan pengukuran ini cukup besar. Sekalipun demikian penelitian kualitatif tetap saja dapat memperoleh validitas jika dilakukan dengan benar, hati-hati dan dengan menggunakan prosedur yang sistematis.

2.Bandingkan dan bedakan fase analisis dalam riset kuantitatif dan riset kualitatif?
Salah satu tahap didalam proses penelitian adalah analisa data. Analisis dan interpretasi data merupakan tahap yang harus dilewati oleh seorang penelitian. Adapun urutannya terletak pada tahap setelah tahap pengumpulan data. Dalam arti sempit, analisis data di artikan sebagai kegiatan pengolahan data, yang terdiri atas tabulasi dan rekapitulasi data.
Fase analisis dalam riset kuantitatif meliputi analisis deskriptif dan analisis inferensial (uji signifikansi). Analisis deskriptif adalah suatu prosedur pengolahan data dengan menggambarkan dan meringkas data secara ilmiah dalam bentuk table atau grafik. Data yang disajikan termasuk distribusi frekuensi, pengukuran tendensi sentral, variability dan bivariate deckriptif statistic. Distribusi frekuensi merupakan pengaturan yang sistematis dari data yang terkumpul mulai dari nilai yang terrendah sampai dengan nilai yang tertinggi, semua di hitung dengan persentase. Statistik ini juga bisa digunakan untuk mengecek kesalahan dalam program computer. Pengukuran tensensi sentral dimulai dari pusat penyebaran variable dengan menggunakan skala ratio atau interval yaitu mean, median, mode. Variability yaitu untuk mengetahui bagaimana penyebaran data yang diperoleh yang terdiri dari range dan standart deviasi, range didapat dengan cara mengurangi nilai tertinggi dikurangi nilai terendah dalam distribusi data. Standart deviasi menggambarkan nilai rata-rata dari mean. Sedangkan bivariate deckriptif statistic untuk menggambarkan hubungan antara dua variable. bivariate deckriptif statistic terdiri dari contingency table dan korelasi. Contingency table merupakan distribusi frekuensi yang bersifat dua dimensi dimana terdapat dua variable yang saling ditabulasi silang. Sedangkan korelasi hubungan antara dua variable yang didskripsikan melalui prosedur korelasi. Korelasi dapat bersipat positif dan negative. Cara yang umum digunakan dalam menghubungkan variable yaitu pearson dan spearmen. Pearson yaitu untuk menhubungkan dan mengukur variable yang bersifat interval atau ratio, sedangkan spearmen untuk menghubungkan dan mengukur variable ordinal. Analisis inferensial (uji signifikansi), uji yang digunakan harus sesuai dengan rancangan penelitian, pengujian statistic yang tidak sesuai akan menimbulkan penafsiran yang salah dan hasil yang tidak dapat digeneralisasi. Uji signifikansi dapat diaplikasikan tergantung dari tujuan analisis dan jenis data yang ada. Statistik inferensial dimaksudkan untuk membuat prediksi atau keputusan mengenai sebuah populasi berdasarkan informasi yang terdapat dalam sebuah sampel. Perhatian statistik inferensial adalah untuk mengetahui atau mengambil kesimpulan dari data melalui analisis : hubungan antar dua variable, perbedaan dalam suatu variabel antar anggota kelompok yang berbeda. Bagaimana beberapa variabel independen dapat menjelaskan terjadinya perubahan dalam suatu variabel independen. Statistik inferensial digolongkan kedalam statistik parametrik dan statistik nonparametrik. Statistik parametrik digunakan apabila memenuhi asumsi bahwa populasi asal sampel didistribusikan secara normal dan data yang dikumpulkan memakai skala interval atau ratio. Statistik parametrik terbagi lagi menjadi statistik univariat dan statistik multivariate. Statistik non parametrik dipakai tanpa mensyaratkan asumsi normalitas distribusi populasi dan bisa dipakai untuk data yang berskala nominal atau ordinal. Contoh statistik inferensial – non parametrik antara lain sign test, Mann-Whitnney U test, korelasi Spearman dan uji chi-square. Uji Chi-square adalah non para metric test yang digunakan untuk mengetahui perbedaan secara significant frekuensi observasi dan frekuensi secara teori, biasanya untuk menguji hipotesa. Contoh statistik inferensial univariat – parametrik antara lain adalah t-test, Z test, korelasi pearson dan ANOVA. Anova digunakan untuk menguji perbedaan antara mean dan dipergunakan sebagai suatu indikasi untuk menolak atau menerima Ho. Contoh statistik inferensial multivariat adalah discriminat analysis, factor analysis, cluster analysis, dan multidimensional scaling.
Fase analisis dalam riset Kualitatif , meliputi : comprehending , synthesizing, theorizing dan recontextualizing. Comprehending, yaitu peneliti berusaha untuk memahami apa yang didapat dari data yang terkumpul dan mempelajari apa yang sebenarnya sedang berjalan. Peneliti dapat mempersiapkan atau memberikan penjelasan yang menyeluruh tentang fenomena yang ada dalam penelitian. Synthesizing, yaitu peneliti menggabungkan dan menyaring data yang terkumpul secara keseluruhan. Peneliti juga berusaha untuk menentukan bagaimana type dan variasi tang ada. Theorizing, yaitu fase dimana peneliti mensortir data yang ada secara sistematis. Peneliti berusaha membuat penjelasan alternative dari fenomena yang ada dalam penelitian dan mempertahankan penjelasan yang ada mereka miliki dengan data yang ada. Recontextualizing adalah peneliti berusaha mengembangkan teori yang sudah ada dan berusaha mencoba untuk mengaplikasikannya ke setting atau keadaan yang lain. Riset kualitatif di analisa dengan cara Analisa domain, taksonomi, komponensial, tema cultural, tema Kultural dan Komparasi Konstan (Grounded Theory Research. Analisa domain, berguna untuk mencari dan memperoleh gambaran umum atau pengertian yang bersifat secara mneyeluruh. Hasil yang diharapkan ialah pengertian di tingkat permukaan mengenai domain tertentu atau kategori-kategori konseptual. Analisa Taksonomi, didasarkan pada focus terhadap salah satu domain (struktur internal domain) dan pengumpulan hal-hal / elemen yang sama. Analisa Komponensial: analisa komponensial menekankan pada kontras antar elemen dalam suatu domain; hanya karakteristik-karaktersitik yang berbeda saja yang dicari. Analisa Tema Kultural: cara melakukan analisa tema kultural ialah dengan mencari benang merah yang ada yang dikaitkan dengan nilai-nilai, orientasi nilai, nilai dasar / utama, premis, etos, pandangan dunia dan orientasi kognitif. Analisa berpangkal pada pandangan bahwa segala sesuatu yang kita teliti pada dasarnya merupakan suatu yang utuh (keseluruhan), tidak terpecah-pecah; oleh karena itu peneliti dalam menganalisa data sebaiknya menggunakan pendekatan yang utuh (holistic approach). Analisa Komparasi Konstan (Grounded Theory Research): cara melakukan analisa komparasi konstan adalah sebagai berikut: mengumpulkan data untuk menyusun / menemukan suatu teori baru, berkonsentrasi pada deskripsi yang rinci mengenai sifat atau cirri dari data yang dikumpulkan untuk menghasilkan pernyataan teoritis secara umum, membuat hipotesa jalinan hubungan antara gejala yang ada, kemudian mengujinya dengan bagian data yang lain dan didasarkan dari akumulasi data yang telah dihipotesakan, peneliti mengembangkan suatu teori baru. Sedangkan cara menganalisa data riset kualitatif yang lain : Analisa data etnografis, yaitu dimulai pada saat peneliti terjun kelapangan secara terus nenerus peneliti mencari pola tingkah laku dan pemikiran dari para responden, membandingkan satu pola dengan pola yang lain dan menganalisa pola secara simultan. Analisa data phenomenology, yaitu analisa yng memberikan gambaran arti dari setiap pengalaman melalui identifikasi tema-tema esensial dan mencari pola-pola yang umum terjadi. Analisa data grounded teori, yaitu analisa ynag menggunakan metode perbandingan secara konstan, membandingkan elemen yang ada dalam satu sumber data didalam wawancara, analisa terus berjalan sampai semua konten dari setiap sumber sudah dibandingkan antara yang satu dengan yang lainnya.
Perbedaan dalam fase analisis riset kuantitatif dan kualitatif adalah sifat data kuantitatif lebih mengutamakan perhitungan statistic, mengenai rata-rata, kecendrungan, arah, kemungkinan, ramalan, persentasi, indeks, perbandingan, jumlah dan lain-lain. Analisa dalam penelitian kuantitatif bersifat deduktif, uji empiris teori yang dipakai dan dilakukan setelah selesai pengumpulan data secara tuntas dengan menggunakan sarana statistik, seperti korelasi, uji t, analisa varian dan covarian, analisa faktor, regresi linear dan lain-lain. Sedangkan data-data kualitatif tidak bisa diukur dengan angka atau data yang tidak bisa diangkakan, hanya dinyatakan dalam bentuk kata, kalimat atau gambar. Analisa data sudah dapat dilakukan semenjak data diperoleh di lapangan. Data diusahakan jangan sampai terkena bermacam-macam pengaruh, antara lain pikiran peneliti sehingga menjadi terpolusi. Apabila terlalu lama baru dianalisa maka data menjadi kadaluwarsa. Analisa data dalam penelitian kualitatif bersifat induktif dan berkelanjutan yang tujuan akhirnya menghasilkan pengertian-pengertian, konsep-konsep dan pembangunan suatu teori baru.

3.Bandingkan dan bedakan kedua abstrak diatas?
Di dalam sebuah riset, ada yang namanya abstrak. Abstrak yaitu penjabaran singkat tentang penelitian yang ada di awal artikel atau jurnal. Abstrak terdiri dari 100 sampai dengan 200 kata, yang akan menjawab pertanyaan-pertanyaan riset dan bagaimana implikasinya terhadap praktik keperawatan. Abstrak terbagi menjadi dua bagian, yaitu abstrak tradisional dan abstrak yang diperbaharui. Abstrak yang tradisional berisi tentang beberapa paragrap kesimpulan yang singkat mengenai gambaran keseluruhan dari penelitian. Abstrak yang sudah diperbaharui dalam bentuk yang lebih panjang dan informative, dengan memiliki judul yang spesipik, terdiri dari latar belakang, tujuan, metode, hasil penelitian, kesimpulan dan kata kunci yang berdiri sendiri.
Abstrak 1 merupakan abstrak tradisional yang seharusnya berisi tentang beberapa paragraph kesimpulan yang singkat mengenai gambaran keseluruhan dari penelitian, walaupun pada abstrak 1 tidak menggambarkan secara keseluruhan dari pada penelitian, hanya kata kunci yang berdiri sendiri dan dijelaskan, sedangkan latar belakang, tujuan, metode, hasil dan kesimpulan tidak berdiri sendiri. Ada penjelasan tentang latar kelakang tetapi tidak jelas, peneliti mencantumkan hasil penelitian, tetapi tidak menjelaskan untuk apa penelitian/ tujuan tidak ada, kesimpulan di cantumkan tetapi tidak jelas, metode yang digunakan sudah dijelaskan. Secara umum isi abstrak 1 membingungkan dan tidak memberikan ringkasan utama dari laporan penelitian. Pada abstrak 2 merupakan abstrak yang sudah diperbaharui karena dalam bentuk yang lebih panjang dan lebih informative, dengan memiliki judul yang spesipik, terdiri dari latar belakang, tujuan, metode, hasil penelitian, kesimpulan dan kata kunci yang berdiri sendiri. Peneliti sudah menjelaskan tentang latar belakang, tujuan, metode, hasil penelitian, kesimpulan dan kata kunci. Tetapi, penjelasan pertama peneliti bukan tentang latar belakang, melainkan tentang tujuan penelitian. Walaupun demikian, di bandingkan dengan abstrak 1, abstrak 2 secara keseluruhan lebih jelas, padat dan dapat menyajikan ringkasan tentang hasil penelitian.
Jadi, abstrak adalah informasi singkat dan padat tentang ringkasan hasil penelitian. Perbedaan abstrak 1 dengan abstrak 2 adalah, abstak 1 merupakan abstrak tradisional dan isi keseluruhan membingungkan dan tidak memberikan ringkasan utama dari laporan penelitian, sedangkan abstrak 2 merupaskan abstrak yang sudah di perbaharui secara keseluruhan lebih jelas, padat dan dapat menyajikan ringkasan tentang hasil penelitian.


DAFTAR PUSTAKA


Dempsey P. A., & Dempsey A. D. (2002). Riset keperawata: Buku ajar dan latihan (4th ed.) (P. Wiyastuti, Trans.). Jakarta: EGC.

Nursalam, (2008). Konsep & penerapan metodologi penelitian ilmu keperawatan edisi 2. Jakarta : Salemba Medika

Nursalam & Pariani, S. (2000). Pendekatan praktis metodologi riset keperawatan. Jakarta : Sagung Seto

Polit, D. F.,& Beck, C.T.(2006). Essential of nursing research: Methods, Appraisal, and Utilization (6th ed.).Philadelphia: Lippincott

MY LIFE

Selamat datang di duniaku, dunia tanpa batas

My Photos

My Photos
Siloam Hospital Kebon Jeruk Jakarta 2010

MY photos 1

MY photos 1
Siloam Hospitals Kebon Jeruk Jakarta

Pengikut

Powered By Blogger